neuroscience di balik meme
mengapa gambar lucu bisa menyebar lebih cepat dari virus
Pernahkah kita terbangun jam dua pagi, berniat untuk tidur, tapi jari ini malah tanpa sadar melakukan scrolling di layar ponsel? Lalu tiba-tiba kita melihat sebuah gambar kucing dengan ekspresi datar yang ditambahi teks "aku_di_hari_senin". Tanpa pikir panjang, kita tertawa kecil dan langsung mengirimkan gambar itu ke grup obrolan teman-teman kantor. Mengapa kita melakukan itu? Mengapa sebuah gambar buram bersolusi rendah, yang dibuat asal-asalan, bisa menyebar lebih cepat dari virus flu di musim hujan? Mari kita bedah fenomena yang tampaknya sepele ini bersama-sama.
Jauh sebelum era internet dan ponsel pintar, seorang ahli biologi evolusioner bernama Richard Dawkins menciptakan sebuah istilah yang revolusioner pada tahun 1976. Ia menyebutnya meme. Bagi Dawkins, meme adalah versi budaya dari gen manusia. Kalau gen mewariskan sifat fisik seperti warna mata atau bentuk hidung, meme mewariskan ide, kebiasaan, atau lelucon dari satu otak ke otak lain melalui proses imitasi. Ia hidup, bermutasi, dan berkembang biak. Tapi, ada satu hal yang memicu rasa penasaran kita. Mengapa otak kita secara sukarela menjadi inang yang begitu ramah untuk ide-ide visual yang acak ini? Pasti ada sesuatu di dalam kepala kita yang memicu dorongan tak tertahankan untuk menekan tombol share sesegera mungkin.
Di sinilah neuroscience atau sains saraf mengambil alih panggung untuk menjawab teka-teki tersebut. Mari kita bayangkan otak kita sebagai sebuah klub malam yang sangat eksklusif. Penjaga pintu utamanya bernama amygdala, yakni pusat pemrosesan emosi di otak kita. Buku pelajaran sejarah atau grafik ekonomi mungkin disuruh antre panjang di luar klub. Tapi gambar anjing Shiba Inu yang tersenyum absurd? Amygdala langsung membukakan tali pembatas dan memberinya akses VIP. Jawabannya ada pada zat kimia favorit kita semua: dopamine. Kita sering salah paham dan mengira dopamine sekadar hormon kebahagiaan. Padahal, ia adalah molekul antisipasi dan penghargaan. Otak kita secara alami selalu haus akan informasi baru yang cepat dicerna. Saat kita scrolling, otak menebak-nebak kejutan apa lagi yang akan muncul. Namun tunggu dulu, apakah sekadar lucu saja cukup untuk membuat kita membagikannya ke orang lain? Ternyata ada satu mesin rahasia lagi di kepala kita yang bekerja diam-diam.
Rahasia terbesarnya terletak pada persilangan antara kemalasan kognitif dan naluri bertahan hidup sosial. Otak kita itu sangat luar biasa, tapi sayangnya ia sangat pelit energi. Ia menyukai sesuatu yang disebut cognitive ease atau kemudahan kognitif. Sebuah meme menyajikan informasi, konteks, dan emosi secara instan dalam satu gambar tunggal. Kita tidak perlu berpikir keras. Begitu kita paham punchline atau letak leluconnya, otak langsung melepaskan tembakan dopamine. Boom. Kita merasa cerdas karena berhasil memecahkan teka-teki humor tersebut.
Namun, dorongan utama untuk membagikan meme itu digerakkan oleh sesuatu yang disebut mirror neurons atau neuron cermin. Di masa purba, diterima oleh suatu kelompok adalah syarat mutlak agar kita tidak dimakan predator sendirian di hutan. Di era modern, cara kita memastikan bahwa kita masih menjadi bagian dari "suku" kita adalah dengan membuktikan bahwa kita menertawakan hal yang sama. Meme adalah jabat tangan rahasia versi digital. Saat kita mengirim meme, kita sebenarnya sedang berkata kepada alam bawah sadar teman kita: "Lihat, otak kita memproses absurdnya dunia ini dengan cara yang sama. Kita satu frekuensi. Kita aman bersama."
Menyadari hal ini membuat saya merenung. Di balik layar kaca yang dingin dan algoritma yang kaku, meme sebenarnya adalah bukti betapa hangat dan terhubungnya umat manusia. Kita semua pada dasarnya sedang mencari validasi, tawa, dan rasa kebersamaan di tengah dunia yang kadang terlalu cepat berubah.
Namun, sebagai pemikir yang kritis, kita juga perlu sedikit waspada. Karena mesin otak yang sama persis ini juga bisa diretas oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menyebarkan disinformasi atau kebencian yang dibungkus dengan humor kognitif instan. Jadi, lain kali kita tertawa melihat video rakun mencuri makanan, ingatlah bahwa kita sedang mengalami keajaiban evolusi biologi dan budaya selama jutaan tahun. Kita menertawakannya bukan semata-mata karena itu lucu. Kita menertawakannya karena kita adalah manusia, kita memiliki otak yang sangat membutuhkan koneksi, dan kita butuh kepastian bahwa ada orang lain di luar sana yang merasa sama lelah dan absurdnya dengan kehidupan ini.